Berdasarkan definisi yang diberikan oleh
UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), climate
change ialah perubahan iklim yang disebabkan oleh aktifitas manusia
baik secara langsung maupun tidak langsung yang merubah komposisi dari
atmosfer global termasuk variabilitas iklim alami. Hasil temuan Parry
et al. (2007) pengaruh perubahan iklim dan variabilitas di wilayah asia
dibuktikan dengan meningkatnya intensitas cuaca buruk dalam skala
regional selama abad 20. Hasil prediksi Third Assessment Report (TAR)
menyatakan bahwa rata-rata setiap daerah akan menghangat 3°C hingga
2050 dan 5°C pada dekade 2080. Kenaikan suhu udara permukaan
diproyeksikan akan terjadi terutama di semua musim di wilayah Asia
bagian utara. Dampak perubahan iklim yang terjadi diproyeksikan akan
meningkatkan siklus hidrologi dan meningkatnya rata-rata curah hujan
tahunan, implikasinya potensi ancaman banjir akan meningkat.
Perubahan iklim akan meningkatkan tingkat ketidakpastian terhadap
variasi populasi ikan secara temporal maupun spasial, kestabilan dan
daya dukung habitat serat interakasi ekosistem (Kirby et al., 2009
dalam Grafton, 2009). Pengaruh jangka pendek dari perubahan iklim hanya
akan berdampak pada beberapa ekosistem saja, namun dalam jangka panjang
akan mengakibatkan pengaruh tidak langsung terhadap ekosistem lautan
(Cinner et al., 2009 dalam Grafton, 2009). Dampak perubahan iklim
secara umum tidak terduga dan non-linear (Brander, 2008 dalam Grafton,
2009), dan bias terhadap tekanan penangkapan. Sebagai contoh akibat
tekanan penangkapan ialah terjadinya pergeseran spesies dari trofik
terbawah, seperti ubur-ubur (Kirby et al., 2009 dalam Grafton, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian 1995
Beberapa penelitian telah dilakukan pada periode ini. Hadi (1995)
melakukan penelitian mengenai analisis daerah penangkapan ikan tongkol
terhadap pola penyebaran suhu permukaan laut di Laut Jawa. Pergerakan
arus ke arah Timur terjadi pada musim barat (Desembe-Februari), saat
terjadi pergerakan tersebut membawa massa air bersalinitas rendah.
Rata-rata SPL Karimun Jawa sebesar 24,35°C dan Bawena 24,79°C. Pada
musim peralihan I (Maret-Mei), arus permukaan di Laut Jawa tidak
menentu, kisaran salinitas rendah dan SPL cenderung meningkat. Kondisi
tersebut diikuti oleh hasil tangkapan tongkol yang meningkat. Pada
musim timur (Juni-Agustus), arus permukaan berbalik ke arah Barat
dengan salinitas yang tinggi dan kisaran suhu yang rendah. Selanjutnya
pada musim peralihan II (September-November), arus kembali tidak
menentu diikuti salinitas yang tinggi dengan SPL yang rendah. Pada
kondisi tersebut hasil tangkapan tongkol meningkat.
Penelitian Widodo (1995) mengenai pengaruh SPL terhadap fluktuasi hasil
tangkapan layang menunjukkan CPUE layang tertinggi terjadi pada bulan
Juli-September yang merupakan musim timur. Analisis regresi yang
dilakukan menunjukkan kenaikan SPL akan berakibat menurunnya hasil
tangkapan layang. Namun saat curah hujan tinggi, maka hasil tangkapan
akan meningkat.
Penelitian senada juga dilakukan oleh Susanto (1995), yaitu analisa
hubungan faktor oseanografi dan meteorologi terhadap penangkapan ikan
di perairan Cilacap. Hasil analisis menunjukkan suhu dan arus
berpengaruh secara nyata terhadap fluktuasi hasil tangkapan. Sedangkan
salinitas dan kecepatan angin tidak berpengaruh secara nyata terhadap
fluktuasi hasil tangkapan.
Penelitian 1999
Devi (1999) telah melakukan kajian yang berkaitan dengan SPL di
Perairan Selatan Bali-Nusa Tenggara Barat, hasil pengolahan data citra
menunjukkan SPL optimum bulan April, Mei, Juni, Juli dan Agustus
berturut-turut sebesar 27,5°C; 30,5°C; 27,5°C; 29°C dan 24,5°C.
Penelitian 2000
Silalahi (2000) yang melakukan penelitian mengenai distribusi ikan
pelagis terhadap SPL di Perairan Selat Sunda menemukan SPL di daerah
DPI pada bulan Juli di sekitar Teluk Paraja hingga Anyer dan sekitar
pulau Rakata berkisar antara 28°C-30°C.
Penelitian 2002
Penelitian Amri (2002) yang dilakukan selama periode 2000-2001 di Selat
Sunda menunjukkan sebaran suhu permukaan laut (SPL) di Selat Sunda
merupakan pencampuran massa air. Massa air hangat di sebelah timur dan
utara selat dan massa air yang lebih dingin di bagian selatan dan barat
selat. Akibat pertemuan massa air tersebut terjadi proses upwelling.
Salinitas perairan lebih tinggi pada musim peralihan I (MP I) dan musim
timur (MT), yaitu 32,7-33,7%. Sedangkan pada musim barat (MB) dan musim
peralihan II salinitas lebih rendah yakni 31‰ (rata-rata bulanan).
Widianingsih (2002) melakukan penelitian mengenai korelasi anomali suhu
permukaan laut Nino-3,4 terhadap curah hujan di daerah Lampung.
Analisis menunjukkan musim kemarau berkorelasi negatif dengan anomali
SPL Nino-3,4. Sedangkan musim hujan anomali SPL Nino-3,4 tidak
berkorelasi dengan anomali curah hujan.
Penelitian 2003
Kajian mengenai beberapa parameter oseanografi juga dilakukan pada
tahun 2002, namun daerah kajian bergeser sedikit ke arah Timur, yakni
Teluk Palabuhanratu yang dilakukan oleh Handayani (2003). Hasil
temuannya ialah SPL terendah terjadi pada bulan Juli-September, dan
naik pada bulan Mei-Desember. Jumlah hari dan curah hujan cenderung
tinggi pada bulan November-Februari dan turun pada bulan
Juni-September. Adapun fluktuasi kecepatan angin bulanan tertinggi pada
bulan Desember-Maret. Analisis regresi menunjukkan fluktuasi kondisi
cuaca berbanding terbalik terhadap CPUE.
Anggraini (2003) melakukan kajian SPL kaitanyan dengan musim
penangkapan ikan cakalang di Perairan Mentawai, Sumatera Barat.
Pengolahan data citra memperoleh rata-rata SPL pada bulan Desember,
Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September,
Oktober dan November masing-masing berkisar antara 21-26°C; 21-24°C dan
23-2524,5°C; 29-31°C; 23-25°C; 24-26°C; 23-26°C; 29-30°C; 29-30°C;
26-27°C; 26-28°C dan 26-28°C.
Penelitian 2004
Harini (2004) melakukan penelitian pendugaan pola arus permukaan yang
diturunkan dari data satelit Altimetri Topex/Poseidon. Hasil analisis
data diperoleh kecepatan arus permukaan di wilayah ekuator cenderung
tinggi, hal tersebut terjadi karena adanya pengaruh gaya coriolis.
Adapun kecepatan arus permukaan di sebalah utara ekuator secara
berturut-turut bekurang dari Timur menuju ke barat, yaitu dari Samudera
Pasifik sampai dengan Selat Makassar bagian Utara. Pola pergerakan arus
hasil pengolahan data menunjukkan kemiripan dengan analisis pola arus
hasil kajian Lagerloef et al. (2001) dalam Harini (2004).
Risandi (2004) dalam kajian SPL, siklon tropis dan curah hujan
menemukan kejadian siklon tropis bulanan di Samudera Pasifik dan
Samudera Hindia pada umumnya tidak terpengaruh oleh fenomena ENSO.
Namun ENSO menunjukkan pengaruh pada bulan-bulan tertentu di Samudera
Pasifik bagin barat, Pasifik bagian timur dan Samudera Atlantik.
Korelasi yang positif ditunjukkan antara kejadian siklon tropis di
Samudera Pasifik dan Hindia bagian selatan dengan kenaikan curah hujan
bulanan di Pulau Jawa. Selain itu hubungan yang positif ditunjukkan
pula anatara SPL dan kenaikan curah hujan di Pulau Jawa.
Penelitian 2005
Hasil penelitian yang dipublikasi tahun 2005 yang dilakukan oleh
Mintoro (2005) dan Nikyuluw (2005) sama difokuskan parameter
oseanografi di Selat Bali hubungannya dengan kelimpahan ikan lemuru.
Hasil penenlitian Nikyuluw (2005) diperoleh hubungan yang cukup erat
antara suhu, klorofil-a dan anomali paras laut terhadap jumlah hasil
tangkapan lemuru di Selat Bali. Mitoro (2005) melakukan penelitian yang
fokus terhadap fenomena upwelling di Selat Bali. Selat Bali merupakan
daerah yang potensial untuk terjadi upwelling kareana pengaru arus
khatulistiwa selatan dan angin muson tenggara yang intensif pada musim
timur. Namun pada bulan Oktober perairan Selat Bali masih mengalami
upwelling, walaupun angin muson barat mulai berpengaruh.
Penelitian 2006
Senin (2006) dalam penelitiannya mengenai konsentrasi klorofil-a dan
SPL hasil citra satelit Aqua MODIS di Perairan Dalam dan Luar Teluk
Tomini 2005 menunjukkan kisaran konsentrasi klorofil-a pada musim
barat, peralihan I, musim timur dan musim peralihan II masing-masing
berkisar antara 0,1313-0,2191 mg/m3; 0,1113-0,2845 mg/m3; 0,1543-0,3573
mg/m3 dan 0,1224-0,2646 mg/m3. Sedangkan SPL rata-rata pada musim
barat, peralihan I, musim timur dan musim peralihan II masing-masing
berkisar antara 28,8-29,1°C; 28,8-29,5°C; 27,8-29,2°C; 27,8-29,2°C.
Fatma (2006) melakukan penelitian senada dengan citra Terra-MODIS di
Perairan Selatan Jawa menemukan kisaran SPL pada musim barat dan musim
timur berturut-turut 28-31°C dan 26,7-29,3°C. Sedangkan kisaran
konsentrasi klorofil-a pada musim barat dan musim timur berturut-turut
0,2-0,6 mg/m3 dan 0,4-0,6 mg/m3.
Syafi’i (2006) melakukan penelitian senada dengan citra Terra-MODIS di
Perairan Natuna menemukan kisaran SPL pada musim barat dan musim timur
berturut-turut 24-29°C dan 28-32°C. Sedangkan kisaran konsentrasi
klorofil-a pada musim barat dan musim timur berturut-turut 0,11-2,59
mg/m3 dan 0,10-3,68 mg/m3.
Penelitian 2007
Ayuningtyas (2007) melakukan kajian SPL dan konsentrasi klorofil-a di
Perairan Barat Laut Aceh sebelum dan sesudah tsunami. Hasil menunjukkan
sebelum tsunami SPL dan klorofil-a berturut-turut berkisar antara
29,19-29,46°C dan 0,23-0,30 mg/m3, sedangkan pasca tsunami kisaran SPL
dan klorofil-a masing-masing 27,04-30,90°C dan 0,20-0,45 mg/m3.
Penelitian 2008
Simbolon & Tadjuddah (2008) telah melakukan penelitian di perairan
Wakatobi, Sulawesi Tenggara mengenai pendugaan front dan upwelling dari
citra SPL dan klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan pada musim barat
SPL dan konsentrasi klorofil-a di perairan Wakatobi berturut-turut
27,5°C dan 1,35 mg/m3, sedangkan pada musim peralihan barat-timur
bernilai 26,7°C dan 0,78 mg/m3. Hasil analisis menunjukkan pada musim
barat dan musim peralihan barat-timur tidak ditemukan adanya indikasi
upwelling. Namun fenomena thermal front ditemukan pada musim barat dan
musim peralihan barat-timur.
Rudiastuti (2008) melakukan hal senanda di Laut Arafura, hasil yang
diperoleh menunjukkan konsentrasi klorofil pada musim timur dan musim
barat masing-masing 0,24 mg/m3 dan 0,16 mg/m3. Adapun rata-rata SPL
pada musim timur dan musim barat masing-masing dan 25,45 °C dan 30,76
°C.
Murianto (2008) malakukan pemodelan iklim dengan model REMO. Hasil
simulasi menunjukkan bahwa bulan April dan Agustus merupakan bulan yang
sensitif terhadap terhadap perubahan SPL. Sedangkan bulan Febuari
merupakan bulan yang paling stabil terhadap perubahan SPL. Pada bulan
Maret-April-Mei dan Juni-Juli-Agustus adalah musim yang paling sensitif
terhadap perubahan SPL. Musim Desember-Januari-Februari yang merupakan
puncak musim hujan adalah musim memberikan respon terendah terhadap
perubahan SPL. Dari hasil skenario tiga, peningkatan SPL sebesar 1°C
akan meningkatkan curah hujan tahunan sebesar 20 % terhadap curah hujan
normal. Pada suhu diatas 29,5°C seluruh curah hujan harian mengalami
kenaikan, pada suhu dibawah 29,5°C dan diatas 29,1°C terdapat beberapa
data curah hujan yang mengalami penurunan, dan sebagian besar data
mengalami kenaikan curah hujan sebesar 50 %. Untuk suhu dibawah 90,1°C
terjadi fluktuasi perubahan curah hujan yang tidak berpola.
Penelitian 2009
Basuma (2009) dalam penelitiannya mengenai konsentrasi SPL hasil citra
satelit Aqua MODIS di Perairan Binuangeun menunjukkan kisaran SPL
rata-rata pada Bulan Maret, April dan Mei masing-masing berkisar antara
24C-28°C; 25C-29°C dan 25C-29°C.
KESIMPULAN SEMENTARA
Penelusuran literatur yang secara komprehensif mengenai perubahan iklim
sulit ditemukan, sehingga pendekatan dampak perubahan iklim dilihat
dari perubahan parameter lingkungan. Berdasarkan pengumpulan literatur
yang telah dilakukan, diketahui bahwa parameter lingkungan (osenaografi
dan metorologi) cukup berpengaruh terhadap kelimpahan sumberdaya ikan.
Analisis data lebih lanjut dapat mengetahui apakah ada pengaruh
perubahan iklim terhadap parameter lingkungan. Namun perlu diperhatikan
apakah fluktuasi hasil tangkapan terjadi akibat perubahan parameter
lingkungan karena perubahan iklim atau sebagai akibat tekanan
penangkapan. Hipotesis yang kami ajukan adalah pengaruh peningkatan
intensitas cuaca buruk yang terjadi sebagai akibat perubahan iklim,
sehingga berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan. Oleh karena itu
perlu parameter kuantitatif yang menjelaskan peningkatan intensitas
cuaca buruk. Salah satu parameter yang mungkin digunakan untuk
mejelaskan cuaca buruk ialah siklon tropis dan ITCZ (Inter Tropical
Convergen Zone).
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Khairul. 2002. Hubungan Kondisi Oseanografi (Suhu Permukaan laut,
Klorofil-a dan Arus) dengan Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil di
Perairan Selat Sunda. Tesis (tidak dipublikasikan). Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.Parry, M.L., O.F. Canziani, J.P.
Palutikof, P.J. van der Linden and C.E. Hanson (eds). 2007.
Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change. USA: Cambridge University
Press.
Grafton , R. Quentin. 2009. Adaptation to Climate Change in Marine
Capture Fisheries. Environmental Economics Research Hub Research
Reports. ISSN 1835-9728. Australia: The Australian National University.
Hadi, Samsul. 1995. Analisa Daerah Penangkapan Ikan Tongkol di Laut
Jawa dengan Memanfaatkan Data Satelit NOAA-AVHRR/2 Melalui Pola
Penyebaran Suhu Permukaan Laut. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program
Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.Harini,
Wahju Sri. 2004. Pola Arus Permukaan di Wilayah Perairan Indonesia
dan Sekitarnya yang diturunkan Berdasarkan Data Satelit Altimetri
TOPEX/POSEIDON. Tesis (tidak dipublikasikan). Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.
Mintoro, Huring Sanji. 2005. Studi Upwelling di Perairan Selat Bali
pada Bulan Oktober 2004. Skripsi (tidak dipublikasikan). Departemen
Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Nikyuluw, Lucky Leonard Upulatu. 2005. Kajian Variasi Musiman Suhu
Permukaan Laut dan Klorofil-a dalam Hubungannya dengan Penangkapan
Lemuru di Perairan Selat Bali. Tesis (tidak dipublikasikan). Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Susanto. 1995. Studi Hubungan Faktor-Faktor Oseanografi dan
Meteorologi terhadap Penangkapan Ikan di Perairan Cilacap dan
Sekitarnya dengan Mempergunakan Set Gillnet. Skripsi (tidak
dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Widianingsih, Sri Agustina. 2002. Analisis Korelasi Anomali Suhu
Permukaan Laut Nino-3,4 dengan Curah Hujan Daerah Lampung. Skripsi
(tidak dipublikasikan). Jurusan Geofisika dan Metorologi, FMIPA-IPB.
Widodo, Rukminto Wahyu. Hubungan Suhu Permukaan laut dan Curah Hujan
dengan Fluktuasi Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus spp.) di
Perairan Bawean, Jawa Timur. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program
Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Simbolon, Domu dan T. Muslim. 2008. Pendugaan Front dan Upwelling
Melalui Interpretasi Citra Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a di
perairan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Buletin PSP Vol. XVII no. 3:
362-371.
Rudiastuti, Aninda Wisaksanti. 2008. Studi Sebaran Klorofil-a dan
Suhu Permukaan Laut (SPL) serta Hubungannya dengan Distribusi Kapal
Penangkap Ikan Melalui Teknoogi Vessel Monitoring System (VMS). Skripsi
(tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan,
FPIK-IPB.
Ayuningtyas, Anggie . 2007. Kajian Perubahan Konsentrasi Klorofil-a
dan Suhu Permukaan Laut di Barat Laut Perairan Aceh Sebelum dan Sesudah
Tsunami dengan Menggunakan Citra Satelit Aqua Modis. Skripsi (tidak
dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Fatma, Erika. 2006. Pendugaan Sebaran Suhu Permukaan Laut dn
Konsentrasi Klorofil di Perairan Selatan Jawa Menggunakan Citra Satelit
Terra Modis. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan
Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Senin. 2006. Sebaran Konsentrasi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut
dari Citra Satelit Aqua Modis di Dalam dan Luar Perairan Teluk Tomini
Tahun 2005. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan
Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Anggraini, Nora. 2003. Hubungan Suhu Permukaan Laut terhadap Pola
Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan
Mentawai, Sumatera Barat. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi
Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Silalahi, Jefri. 2000. Analisis Distribusi Jenis Ikan Pelagis Kecil
di Perairan Selat Sunda Dikaitkan dengan Citra Suhu Permukaan laut dari
Satelit NOAA/AVHRR. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu
dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Devi, Ade Rachmawati. 1999. Studi Tentang Hubungan Daerah
Penangkapan Ikan Tuna (Thunnus sp.) di Perairan Selatan Bali-NTB dengan
Suhu Permukaan Laut Satelit NOAA-AVHRR. Skripsi (tidak dipublikasikan).
Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Pardede, Shinta Trilestari. 2001. Pola Perubahan Suhu Permukaan Laut
di Sekitar Perairan Laut Jawa dan laut Flores dari Data Citra
NOAA/AVHRR dan Hubungannya dengan Fenomena Bleaching pada Ekosistem
Terumbu Karang di Perairan Bali. Skripsi (tidak dipublikasikan).
Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB.
Risandi. 2004. Departemen Meteorologi Terapan, FMIPA-IPB.
Murianto. 2008. Departemen Meteorologi Terapan, FMIPA-IPB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar